top of page

propertynook Group

Public·69 members

Sejarah Asal Mula Nasi Kucing


Kata "nasi kucing" berarti "nasi untuk kucing", karena porsinya yang kecil. Kata tersebut berasal dari kebiasaan masyarakat Jawa yang memelihara kucing dan memberikan makanan untuk peliharaannya dengan porsi kecil.[2] Nasi kucing biasanya berisi sambal, gereh pindang, dan nasi dengan porsi yang sedikit. Gereh pindang adalah salah satu makanan kucing sehingga hal ini yang membuat nasi yang berporsi sedikit ini disebut nasi kucing.[3]




Sejarah Asal Mula Nasi Kucing



Nasi kucing berasal dari Yogyakarta, Semarang, dan Surakarta.[4] Nasi ini sangat digemari oleh berbagai kalangan terutama kalangan muda seperti mahasiswa,[5] terutama pada era reformasi saat bahan pokok mengalami kenaikan harga.[6]


Nasi kucing memiliki porsi kecil yang ditambah dengan berbagai macam lauk. Jenis lauk yang disediakan biasanya ikan bandeng dan tempe.[2] Bahan lain yang dapat ditambahkan yaitu telur, ayam, dan mentimun.[4] Disajikan dengan daun pisang dan bisa langsung disantap.[2] Menu pendamping nasi kucing selain telur dan ayam adalah sate, gorengan, tahu bacem, bihun goreng, dan sebagainya.[6]


Variasi dari nasi kucing adalah sego macan, ukurannya tiga kali lebih besar dibandingkan nasi kucing. Biasanya disajikan dengan nasi yang dibakar, ikan, dan sayuran. Seperti nasi kucing, sego macan juga dibungkus daun pisang.[7]


Nasi kucing biasanya dijual dengan harga murah (terkadang Rp 1000 untuk nasi kucing[8] dan Rp 4000 untuk sego macan[7]) di tempat yang kecil, maupun jajanan pinggir jalan yang disebut angkringan.


Mbah Djukut awalnya berinisiatif menjajakan terikan sembari membawa cerek wadah minuman. Lambat laun, menu terikan itu mulai tergeser dengan menu nasi bungkus dengan lauk secuil daging bandeng atau gereh lengkap dengan sambal. Nama menu tersebut lantas dikenal dengan nasi kucing dan melekat hingga kini.


Fimela.com, Jakarta Jika sahabat Fimela sering membaca artikel tentang makanan khas Jogja atau mungkin sering liburan dan jalan-jalan ke Jogja dan sekitarnya, seperti Solo, Semarang dan beberapa daerah Jawa Tengah lainnya, mungkin pernah mendengar atau mencoba nasi kucing.


Dilansir dari Wikipedia, nasi kucing memiliki arti 'nasi untuk kucing', karena porsinya yang sedikit seperti makanan yang diberikan pada kucing. Namun sepertinya bukan hanya ini saja alasan banyak orang membuat nasi kucing.


Nasi kucing sengaja dibuat dengan porsi sedikit untuk menyesuaikan kemampuan beli rakyat biasa pada zaman dulu. Karena membeli makanan mahal sulit dilakukan, akhirnya orang mencari cara bagaimana bisa menjual makanan namun dengan harga sangat murah. Itulah mengapa, nasi kucing juga identik atau erat kaitannya dengan makanan orang miskin.


Meski begitu, kini nasi kucing memiliki daya tariknya sendiri. Nasi kucing menjadi makanan khas daerah yang banyak dicari dna membuat penasaran wisatan lokal maupun mancanegara, sehingga derajatnya naik, bukan jadi makanan orang miskin lagi. Para penjual nasi kucing juga membuat banyak variasi lauk sehingga orang bisa memilih sesuai selera.


Satu porsi nasi kucing terdiri dari satu kepal nasi putih, dengan lauk ikan teri, tempe yang dibumbu dan sedikit sambal. Nasi kucing umumnya dibungkus dengan daun pisang, namun ada juga yang membungkusnya dengan kertas coklat pembungkus nasi. Jika sudah makan satu, ingin makan lagi dan lagi.


Dalam seporsi nasi jinggo terdapat lauk pauk dan sambal. Nasi jinggo memiliki beragam pilihan lauk pauk mulai dari ayam, ikan laut, sapi, hingga telur. Sedangkan lauk yang pasti ada biasanya kering tempe, serundeng, mie goreng ataupun sayuran. Tak ketinggalan juga ada sambal.


Menu yang dijual pada umumnya nasi kucing (sega kucing) sehingga sering disebut juga warung nasi kucing. Dinamakan nasi kucing karena berupa nasi bungkus berisi nasi putih dalam porsi kecil seperti makanan kucing. Lauknya biasanya berupa aneka gorengan, beragam satai seperti telur puyuh, usus, jamur, tahu, dan tempe bacem, serta makanan tradisional lainnya.


Dari sana beras kemudian mulai menyebar ke wilayah China selatan dan India. Beras tertua di India ditemukan pada tahun 2500 sebelum masehi di wilayah Harrapa dan sawah tertua di China diduga berasal dari tahun 3000 sebelum masehi.


Nasi kebuli (Arab: الرز الكابلىcode: ar is deprecated ; Sebutan Arab: [Ka:buly:]) ialah variasi Indonesia bagi pilaf. Ia terdiri daripada nasi yang dimasak dalam daging kambing sup, susu kambing, dan mentega yang dijelaskan (paling kerap ghee). Ia popular di kalangan masyarakat Arab di Indonesia dan orang Betawi di Jakarta.[1] Nasi kebuli' dipengaruhi oleh budaya Arab dan asal usulnya boleh dikesan kepada masakan Timur Tengah, terutamanya pengaruh Arab Yaman (nasi mandi atau kabsa), pengaruh Masakan India (nasi biryani), dan pengaruh Afghan (kabuli palaw).


Nasi kabuli versi Timur Tengah lebih mirip dengan kabuli palaw daripada nasi kebuli Indonesia. Perkataan pilaf, palau atau palaw hanya bermaksud hidangan nasi yang dimasak dengan kuah perasa. Menurut sejarah, hidangan itu dibawa ke Timur Tengah dari benua kecil India dan Asia Tengah. Satu perbezaan ialah kehadiran lobak merah yang dicincang dan mungkin anggur di Kebuli versi timur Tengah atau Afghanistan.[4]


Awalnya Wono meminta Karso untuk merawat kerbau dan bertani. Lantaran rajin, ia pun menjadi anak buah kesayangan Wono dan diberikan kesempatan berjualan terikan (makanan asal Jawa Tengah dengan kuah kental disertai lauk tempe atau daging). Karso pun langsung menyetujuinya dan memulai berjualan terikan.


Nasi Jinggo atau yang juga dikenal dengan sebutan Nasi Jenggo merupakan salah satu makanan siap saji khas Bali yang dibungkus dengan daun pisang dan dalam porsi kecil. Sekilas saat melihat tampilannya, warga Jogja akan teringat dengan nasi kucing khas angkringan.


Berbeda halnya dengan nasi kucing, yang khas dengan sambel terinya, Nasi Jinggo lebih populer dengan sambal Bali yang siap membuat lidah Anda terbakar hebat! Selain itu, Nasi Jinggo dibungkus berbentuk kerucut lancip.


Tidak ada catatan sejarah atau pun dokumentasi lainnya terkait asal mula Nasi Jinggo. Seperti halnya kebudayaan khas Indonesia yang lain, asal usul Nasi Jinggo diketahui dan diwariskan dari mulut ke mulut. Beberapa versi juga bermunculan, menambah daftar referensi asal usul Nasi Jinggo yang legendaris ini.


Kini, seiring berjalannya waktu, Nasi Jinggo mulai dikreasikan dalam bentuk yang lebih menarik dan dapat ditemui di seluruh sudut Pulau Bali. Sejurus dengan melambungnya harga bahan baku, harga nasi Jinggo pum ikut naik, yakni Rp.3.000,00-Rp.10.000,00 tergantung porsi yang disajikan.


Jika ingin mencobanya, kamu bisa menyempatkan diri mampir ke angkringan-angkringan yang ada di kota tempat tinggalmu. Biasanya, satu porsi nasi kucing dijual dengan harga Rp 2.000. Cukup terjangkau bukan?


Inibaru.id - Siapa yang nggak kenal angkringan?Tempat makan yang punya ciri khasmenggunakan gerobak dan penutup terpal ini menyajikan berbagai makanan yang ramah bagi kantong. Selain nasi bungkus alias nasi kucing, kamu juga bisa menemukan gorengan, satai, dan lauk lainnya. Di sini, kamu juga bisa menemukan minuman nikmat seperti wedang jahe.


Angkringan mudah ditemukan di berbagai wilayah di Jawa Tengah. Hanya, tempat makan ini kadung identik dengan Kota Yogyakarta. Menariknya, sejarah angkringan ternyata nggak berasal dari Kota Pelajar, lo. Lantas, dari mana sih asal-usul angkringan?


Nggak lamaberselang, varian makanan yang dijual Mbah Karso bertambah dengan hadirnya nasi kucing. Menariknya, karena sangat populer dan digemari pelanggannya, nasikucing itu malah menggeser pamor terikan.


Sebagai pengingat dari mana asal muasal angkringan, mulai tanggal 26 Februari 2020, Desa Ngerangan di Kecamatan Bayat, Klaten, ditetapkan sebagai Desa CikalBakal Angkringan. Di sini, sejarah tentang asal tempat makan legendaris ini dikenang.


Karso yang berasal dari Desa Ngerangan, Klaten merantau ke Solo saat umurnya masih berusia 15 tahun, atau pada 1930-an. Di Solo ia mencoba ragam profesi. Namun, seiring waktu Karso mulai tertarik berbisnis makanan bermodal pikulan --angkringan yang dipikul di puncak-- ketika melihat temannya berjualan terikan, sebuah makanan khas dari Jawa Tengah.


Alhasil, jejaknya mulai diikuti oleh warga kampung Karso yang berdiaspora ke pelosok Jawa, termasuk Yogyakarta. Di Yogyakarta nama Pawiro atau Pairo jadi pelopor. Pawiro yang berasal dari Cawas, Klaten memilih mengadu nasib dengan merantau ke Yogyakarta. sejak awal Pawiro sudah menekuni profesinya sebagai pedagang HIK dengan menggunakan pikulan di sekitar emperan Stasiun Tugu Yogyakarta.


Penyebutan nasi kucing berawal dari lauk yang menyertai hidangan ini.Menurut Gunadi S.Pd.I atau Gugun selaku inisiator Desa Cikal Bakal Angkringan Ngerangan Klaten, awalnya lauk nasi kucing adalah sambal, gereh pindang, dan sedikit nasi.Isian tersebut umum digunakan sebagai makanan kucing. Sehingga masyarakat pun mulai menyebut sajian khas angkringan tersebut sebagai sego kucing atau nasi kucing.Namun, seiring berjalannya waktu nasi kucing justru identik dengan lauk sambal teri. Sampai sekarang, penjual di angkringan berkreasi dengan berbagai macam lauk.Selain nasi kucing, terdapat bermacam-macam lauk sate di angkringan untuk menemani makan nasi kucing.Beberapa di antara lauk yang kerap ditemui adalah sate telur puyuh, sate kerang, sate ati ampela, dan sate usus ayam. 350c69d7ab


About

Welcome to the group! You can connect with other members, ge...
bottom of page